PT. Dirgantara Indonesia adalah satu-satunya perusahaan milik negara di bidang industri Dirgantara .Industri dirgantara di Indonesia pernah mencapai masa kejayaan sekitar tahun 1980 sampai akhir 1997. Saat itu PT.DI masih bernama IPTN berhasil memproduksi pesawat, helikopter, senjata dan juga memberi jasa perawatan pesawat. Pesawat yang menjadi primadona pada masanya adalah pesawat CN-235 dan NC-212. Pada masa itu PT.DI sangat disegani di dunia. Namun akibat krisis di akhir tahun 1997 mengalami kerugian sehingga banyak karyawannya yang diberhentikan. Keadaan itu semakin terpuruk karena PT.DI sudah sulit mendapatkan dana namun justru harus membayar hutang pada IMF. Sampai saat ini PT.DI masih mengalami kesulitan keuangan yang memengaruhi pembayaran gaji karyawan, sehingga sering terlambat dibayar.. Pada akhir-akhir ini pun kabar di harian Kompas, Sabtu 25 Juni 2011 “PT.DI akan diberhentikan pada tahun 2012”.
Hal ini membuat saya teringat akan seorang sosok yang banyak berperan dalam kejayaan industri dirgantara di Indonesia yaitu Pak B.J. Habibie. Beliau dengan segala karyanya dahulu berhasil menjadikan Indonesia negara yang maju di bidang dirgantara pada masanya. Namun saat ini kemanakah sosok penerus perjuangan Pak Habibie. Dimana orang-orang yang akan berjuang untuk kebangkitan negerinya di bidang teknologi dirgantara?
Redupnya dirgantara Indonesia
Setelah Indonesia menyetujui “letter of intent” dari IMF mulailah Dirgantara Indonesia redup. Bantuan pendanaan dari pemerintah tidak ada lagi, sementara itu krisis ekonomi sedang melanda di Indonesia dan dunia. Terjadi begitu banyak perubahan yang sangat drastis di Dirgantara Indonesia. Memang benara kata Pak Habibie “ PT.DI ini ibarat sebuah gunung es” saat bagian atasnya mencair maka akan berpengaruh besar pada bagian bawahnya. Maksudnya di saat dari kebijakan PT.DI sudah hancur itu akan berpengaruh besar pada seluruh bagian yang ada di PT.DI. Saat kejayaannya karyawan PT.DI mencapai 16.000 orang sedangkan setelah krisis menurun dengan jelas hingga tinggal 4.000 karyawan yang bertahan.
Industri dirgantara baru
Jika memang PT.DI akhirnya diberhentikan itu bukan merupakan hal yang buruk. Dengan adanya hal itu pemerintah bisa membuat perusahaan baru dan bekerja sama dengan pihak swasta untuk keberjalanan industri dirgantara di Indonesia. Dalam pikiran saya justru ini adalah itikad yang baik membentuk perusahaan baru yang jauh lebih baik dan tidak terkait dengan hutang serta masih bisa menjadi tempat investasi. Tapi ini tidak meninggalkan pihak-pihak yang ada di PT.DI justru para karyawan yang ada di PT.DI bisa di pindahkan ke perusahaan tersebut. Hal ini berarti perusahaan baru nanti bisa langsung berjalan baik karena sudah ada orang-orang yang berpengalaman. Perusahaan baru yang ada nanti sudah tidak terkait lagi dengan hutang sehingga bisa berkembang secara baik.
Perjalanan membangun kembali dirgantara nusantara bukan hal yang mudah. Langkah yang nanti akan diambil setelah perusahaan baru itu dibentuk adalah rekrutmen terhadap tenaga-tenaga ahli yang ada di Indonesia. Perusahaan baru tersebut harus bekerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki lulusan berkompeten di bidang dirgantara dan juga bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dalam hal ini seperti Kementrian BUMN, Kementrian Industri, Kementrian Riset dan Teknologi, Kementrian Perhubungan khususnya bidang transportasi udara serta pihak swasta juga yang terkait dalam kedirgantaraan di Indonesia.
Kerinduan Seorang BJ.Habibie
Melihat tragedi Merpati MA 60, hati siapa yang tidak sedih dan marah, Negara yang dahulu jaya di dunia dengan pesawat buatan sendiri. Kini harus mengimport pesawat dari negara lain. Seorang BJ.Habibie adalah orang yang mungkin merasa paling sedih dan kecewa dengan kejadian tersebut. Namun beliau berharap itu adalah sebuah pelajaran untuk perbaikan kedirgantaraan Indonesia.
Dalam sebuah wawancara BJ.Habibie mengungkapkan bahwa “Caranya di perjuangkan, dan saya yakin dengan kejadian MA 60, saya rasa tidak ada orang di bumi Indonesia yang tidak merindukan kembali jayanya industri dalam negeri”.
Bahkan beliau juga banyak bercerita dalam kunjungannya ke Garuda Indonesia sebagai maskapai terkemuka di dalam negeri. Dalam kunjungannya beliau bercerita tentang industri dirgantara Indonesia, diawali dengan seorang Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Penyambung Lidah Rakyat! Soekarno tahu persis sebagai insinyur Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI.
Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi maritim dan teknologi dirgantara. BJ.Habibie termasuk dalam pelajar yang dikirim oleh pemerintah saat itu untuk belajar ke luar negeri. Pendidikan yang beliau jalani begitu panjang dan butuh perjuangan sehingga berbuah hasil untuk membangun perusahaan strategis yaitu IPTN.
Tapi ketika IPTN sedang berkembang, krisis ekonomi terjadi sehingga IPTN terpaksa tidak mendapat suntikan dana lagi dari pemerintah, sehingga banyak karyawan yang pergi ke luar negeri. Pak Habibie bercerita tentang hatinya yang sedih dan sakit karena melihat ahli-ahli teknologi Indonesia yang pergi ke luar negeri seperti ‘diusir’ dari negerinya sendiri. Itulah ungkapan kesedihan seorang Bapak Bangsa yang yang berjanji pada dirinya untuk membangkitkan kembali Industri pesawat terbang Indonesia sebelum Allah SWT memanggilnya untuk kembali.
Butuh Sebuah Komitmen
Sebernarnya sampai saat ini PT.DI masih hidup dengan mengandalkan sumber dana dari hasil penjualan suku cadang pesawat, proyek-proyek perawatan pesawat dll. Tapi semua itu tidak cukup untuk keberjalanan dan kelangsungan PT.DI. Pernyataan dari Direktur Teknik dan Pengembangan PT.DI, Dita Ardonni Jafri menyatakan sampai saat ini PT.DI masih sulit untuk menjangakau pasar luar negeri karena masih kurangnya kepercayaan pasar luar negeri terhadap PT.DI, kepercayaan itu sulit di dapat karena kurangnya juga support dariu pemerintah. Sampai saat ini pemerintah masih sedikit menggunakan pesawat buatan PT.DI, justru Malaysia lebih banyak memakai pesawat buatan PT.DI. Kenyataan ini memang sangat ironis untuk itu butuh komitmen yang jelas dari pemerintah agar PT.Dirgantara Indonesia kembali ke masa jayanya
Melihat sejarah Dirgantara Indonesia yang dahulu begitu maju dan memberikan sejuta harapan, Alangkah rindunya negeri ini terhadapa masa kejayaannya, negeri ini rindu sebuah kebanggaan dan penghargaan. Melihat Indonesia yang mampu membuat pesawat dan menerbangkan pesawat tersebut. Seperti analogi seorang Ibu yang membangunkan anaknya dari tidur dan memberi tahu bahwa alangkah luas dan indah negeri ini.
InsyaAllah, semoga industri dirgantara Indonesia terbang kembali.Untuk Indonesia Mengangkasa. Salam Terbang Mengangkasa.
Sumber
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12608368
http://www.bumn.go.id/ptdi/galeri/artikel/kami-butuh-komitmen-jangka-panjang/
Penulis















