SLA 3D Printing adalah teknik 3D printing yang memanfaatkan resin dan sinar UV atau Visible light sebagai komponen utama. Berbeda dengan 3D printing berbasis filamen, resolusi hasil dari SLA 3D Printer jauh lebih baik sampai dengan ukuran 25 mikron. Akan sangat baik digunakan untuk prototyping produk yang memerlukan tingkat detail yang tinggi.
Sejarah SLA 3D Printing
SLA adalah singkatan dari Stereolithography. Teknik ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh peneliti asal Jepang bernama Dr. Hideo Kodama. Istilah Stereolithography sendiri muncul dari seseorang bernama Charles W. Hull, orang yang pertama kali membuat mesin SLA 3D printing dan dipatenkan pada tahun 1984. Charles W.Hull bersama dengan perusahaan bernama 3D System mulai mengkomersialkan mesin ini. Pada dasarnya cara kerja SLA 3D Printer adalah mencetak obyek 3 dimensi layer demi layer dari lapisan bawah ke atas sedikit demi sedikit sampai keseluruhan obyek terbentuk.
Seiring dengan kadaluarsanya paten Charles W. Hull pada tahun 2000-an, mulailah bermunculan produk-produk bebasis SLA 3D Printing dengan versi desktop.
Sistem Kinerja SLA 3D Printing
Right-Side Up SLA 3D Printer
| Right Side Up SLA 3D Printer Concept. Credit:Sculpteo.com |
Upside-Down SLA 3D Printer
| Upside-Down SLA 3D Printer Concept. Credit:nerdist.com |
Konsep Upside-Down 3D printer jenis ini dinilai lebih efisien karena volume tangki resin yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan konsep Right-Side Up. Pada konsep Right-Side Up, ketinggian obyek terbatasi oleh tangki resin sehingga ukuran obyek terbatas.